Anak Indonesia dalam Penjara

Minggu, Agustus 30, 2015 2 Comments A+ a-


Hujan deras di siang hari tak menghalangi para relawan pengajar dari VTIC (Volunteerism Teaching Indonesian Children) untuk tetap berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia. Tepat pukul 16.30 waktu Kuala Lumpur kami disambut oleh Diplomat RI untuk Malaysia, yaitu Bapak Ari Purbayanto, untuk melakukan diskusi terkait nasib pendidikan anak-anak buruh migran di Malaysia.

Penemu mesin pemisah tulang ikan dan daging ini sangat bangga sekali menyambut 44 relawan pengajar dari 27 universitas di Indonesia. "Saya sampai geleng-geleng, kalian datang ke Malaysia untuk program yang mulia ini. Kalian adalah penerus generasi bangsa!" ujar Pak Ari. Lulusan Maritime Technology di Tokyo University berpesan bahwa generasi muda harus meningkatkan profesionalisme sesuai bidang masing-masing, karena ini merupakan sebuah pengorbanan atau dedikasi yang luar biasa untuk bangsa.

Dalam diskusi antara para relawan dan diplomat RI, Ahmad Adib sebagai Ketua VTIC Foundation menyampaikan harapan-harapan untuk program VTIC Cycle dan VTIC Training yang akan dilakukan dari tanggal 3-23 Agustus 2015 di Serawak, Malaysia. VTIC Cycle akan berfokus pada kegiatan belajar mengajar para relawan di Sekolah Non Formal, sedangkan VTIC Training akan berfokus pada kesehatan dan psikologis para TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Serawak.

"Kami berharap KBRI dapat mendukung diadakannya sekolah setingkat SMP dan SMA untuk anak-anak buruh Migran di Malaysia," kata Adib. Selain itu, Adib menambahkan bahwa jumlah anak-anak buruh migran kurang lebih ada 20.000 jiwa, tetapi hanya 4% yang diizinkan untuk bersekolah. Harapan lainnya, semoga pihak KBRI bisa terus menjalin kerja sama dengan VTIC Foundation untuk mendukung pelaksanaan program-program VTIC.


Pak Ari Purbayanto mengatakan bahwa telah ditandatangani PERBER (Peraturan Bersama) antara pihak pemerintah Indonesia dengan pihak KBRI untuk berkomitmen terkait penyelenggaraan pendidikan di luar negeri. Pemerintah Indonesia menjamin mutu pendidikan anak-anak Indonesia di luar negeri. Namun, PERBER tidaklah berjalan sinergis dengan pihak pemerintah Malaysia. "TKI yang berkatagori Non Profesional tidak diperbolehkan menikah dan memiliki anak-anak atau membawa keluarga," jelas Pak Ari terkait peraturan dari pihak pemerintah Malaysia.

Pemerintah Indonesia hanya dapat mendirikan International School ataupun Sekolah Indonesia-Malaysia, namun syaratnya adalah sekolah tersebut hanya diperuntukkan untuk anak-anak Indonesia yang mempunyai sertifikat kelahiran atau akta kelahiran. "Yang menjadi masalah besar adalah anak-anak buruh migran adalah anak-anak ilegal. Mereka hanya diizinkan bersekolah sampai setingkat SD, yaitu dari umur 0-12 tahun. Saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk meminta sampai umur 15 tahun untuk bisa mendapatkan hak pendidikan. Sabah sudah mengizinkan anak-anak buruh migran bisa bersekolah sampai setingkat SMP. Namun, di Serawak belum," ungkap Pak Ari. Setelah lewat dari usia 12 tahun, anak-anak buruh migran menjadi pekerja ilegal di ladang-ladang kelapa sawit seperti orangtuanya.

Pak Ari Purbayanto juga menekankan bahwa bagaimana menyadarkan orang tua (buruh migran) tentang pendidikan tinggi untuk anak-anaknya. Setelah anak-anak bersekolah sampai tingkat SMP, mereka harus siap dipisahkan dari orang tua untuk mendapatkan pendidikan lebih tinggi lagi di Indonesia, maka anak tersebut akan menjadi anak-anak legal. Jika orang tua tetap membiarkan anak-anak mereka untuk bekerja di ladang, kapan pun mereka bisa saja dideportasi.

Anak-anak buruh migran seperti berada di dalam penjara. "Bahkan mereka dilarang untuk mendekati jalan beraspal agar tidak ketahuan bahwa mereka adalah anak-anak ilegal bagi pemerintah Malaysia," pungkas Pak Ari.



*Tulisan ini merupakan resume dari diskusi antara KBRI untuk Malaysia dengan 44 relawan pengajar VTIC Cycle 4 pada tanggal 2 Agustus 2015.

Wahai engkau pemuda pembangun peradaban, adik-adik kita membutuhkan dukungan dari kalian semua!

HUT RI Bersama Anak-anak Buruh Migran di Serawak

Jumat, Agustus 28, 2015 1 Comments A+ a-


Dedikasi untuk negeri, mendidik tiada henti. Siap mengabdi sampai ujung dunia, walau jauh dari tanah air tercinta.

Tak pernah terpikirkan olehku untuk akhirnya dapat menemui mereka. Tidak hanya sekadar bertemu, tetapi kita juga melakukan banyak hal di sana. Mereka adalah bibit-bibit bangsa yang mempunyai semangat juang tinggi untuk memajukan nama negeri. Mereka adalah anak-anak buruh migran, sang pahlawan devisa negara. Aku bersama 40 relawan muda dari 27 universitas di Indonesia terbang dari tanah air menuju negeri jiran, lalu berpencar ke beberapa titik di Serawak untuk menjalin kisah romantis bersama anak-anak buruh migran dalam mengarungi mimpi-mimpi mereka.

Anak-anak Indonesia dimanapun mereka berada, haruslah tetap bisa mengenyam pentingnya pendidikan, karena di genggaman merekalah masa depan Indonesia berada. Di nagera Malaysia, khususnya Serawak, terdapat pekerja Indonesia yang mencapai lebih dari 400 ribu orang yang ditempatkan tidak kurang dari 250 perusahaan kelapa sawit. Dari jumlah warga negera Indonesia tersebut, setidaknya terdapat 20.000 anak-anak Indonesia. Namun, hanya sekitar 800 anak yang mampu mengenyam pendidikan di 17 sekolah non formal.

Aku bersama relawan lainnya mengabdi selama 20 hari di sana. Banyak sekali kisah-kisah yang sungguh menggetarkan hati ini bersama adik-adik kesayanganku. Aku bersama dua relawan ditempatkan di Galasah, salah satu titik fokus tempat kami mengabdi untuk 32 bibit-bibit bangsa. Buku hanya satu untuk dapat dipelajari bersama-sama. Papan tulis hanya satu sebagai fasilitas yang digunakan untuk beberapa kelas dalam waktu yang bersamaan. Ruang kelas pun hanya satu untuk berdasak-deasakan mengukir cita. Di tengah-tengah barisan pohon kelapa sawit yang menjulang tinggi, sebuah sekolah kecil berbentuk rumah panggung menjadi saksi bisu tempat persinggahan anak-anak buruh migran dalam menggapai mimpi. Sekolah Dasar Al-Ikhlas namanya. Aku salah satu pemuda Indonesia yang beruntung untuk dapat menyaksikan secara langsung senyum manis mereka dengan keoptimisan juang yang tinggi.


17 Agustus 2015 adalah salah satu momen yang paling kami tunggu-tunggu. Aku telah menyaksikan secara langsung bagaimana semangat mereka untuk menunjukkan rasa cintanya kepada negeri. Adik-adikku latihan upacara HUT RI dengan sangat keras. Padahal mereka hanya melakukan upacara satu tahun sekali. Bisa terbayangkan, bagaimana usaha keras mereka untuk memberikan hasil yang maksimal di momen upacara HUT RI. Selain latihan upacara HUT RI, aku bersama adik-adikku juga menghias ruang kelas, tempat kami melakukan upacara HUT RI. Ruang kelas dihiasi bendera merah putih yang berukuran kecil, ada juga balon merah putih, dan gambar-gambar pahlawan negeri berjajar rapi mengelilingi tembok kelas.

Tepat pukul 09.30, kami melaksanakan upacara HUT RI di dalam ruang kelas Sekolah Dasar Al-Ikhlas, Galasah. Walaupun sang saka merah putih tidak dapat berkibar di bawah langit yang cerah, upacara tetap berlangsung dengan hikmad dan semua petugas upacara berhasil melaksanakan upacara dengan usaha yang maksimal. “Kepada sang saka merah putih, hormat grak!” dengan lantang Khairil (Kelas 3 SD) memimpin pemberian hormat saat upacara berlangsung. Ketika kami menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipandu oleh Nia (kelas 4 SD) sebagai dirijen, air mata berlinangan jatuh membasahi suasana upacara. Akhirnya, aku mengetahui maksud dari sepenggal lirik lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh W.R Supratman, “Disanalah, aku berdiri jadi pandu Ibuku. Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku.” Kata “Disanalah”, sangat tepat menggambarkan rasa rindu yang teramat dalam kepada Indonesiaku.

Walaupun bendera tidak dapat dikibarkan di tengah-tengah barisan pohon kelapa sawit, adik-adikku tetap bersyukur masih bisa melaksanakan upacara untuk memperingati ulang tahun negeri tercintanya. Jarak bukanlah masalah, yang terpenting bagi mereka adalah hati ini tetap selalu dekat dengan denyut jantung Indonesia. 

Dua hari kemudian, kami mengadakan perlombaan untuk memperingati HUT RI di lapangan terbuka dekat sekolah. Salah satu lombanya adalah lomba lari mengambil bendera untuk murid-murid TK dan SD kelas 1. Walaupun saat upacara HUT RI tidak boleh mengibarkan bendera merah putih, saya cukup puas melihat bendera merah putih yang berukuran mungil untuk dijadikan sebagai properti perlombaan lari. Melihat bendera mungil itu terkena sentuhan lembut angin, hati ini semakin merindu Indonesia.





Adik-adikku selalu berkata, “Kami akan melanjutkan sekolah di Indonesia, cikgu!” Ekspresi mereka ketika mengatakan seperti itu, sampai saat ini tak akan pernah aku lupakan. Pemerintah Malaysia hanya mengizinkan anak-anak Indonesia untuk mengenyam pendidikan hanya sampai usia 12 tahun. Lebih dari usia 12 tahun, anak-anak Indonesia tidak boleh menuntut ilmu di Malaysia. Buruh-buruh migran selalu memperjuangkan nasib pendidikan anak-anaknya, agar mimpi anak-anak mereka tidak sama dengan nasib orang tuanya. Mereka memang sulit untuk jauh dan melepaskan kepergian anak-anaknya menuntut ilmu lebih tinggi di Indonesia. Namun, mereka tetap percaya bahwa pendidikan mengajarkan banyak hal untuk menjadi manusia sesunggunya yang mencintai negerinya.

Anak-anak buruh migran sesungguhnya adalah inspirator kemerdekaan. Mereka dan orang tuanya selalu berjuang di negeri orang, tetapi Indonesia tetap di denyut jantung mereka. Terima kasih Tuhan, telah mengizinkanku untuk mengukir kisah romantis bersama mereka. Pertemuan yang sangat singkat namun serat akan makna, telah membuatku sadar bahwa arti kebahagiaan tidak selalu diperoleh dari materi. Materi hanya dapat membuat kebahagiaan semu belaka, tetapi ketengangan jiwalah yang merupakan kebahagiaan sesungguhnya. Semoga adik-adik kecilku selalu semangat untuk terus mengarungi cita. Kembalilah ke negerimu dan tuntutlah ilmu, wahai adik-adikku! Disinilah tempatmu berpijak untuk dapat melompat lebih tinggi lagi.